Sunday, April 29, 2012

Jamban Portable ?

Beberapa hari yang lalu gue sempet liat di tv tentang beberapa orang remaja yang pengen bikin suatu trobosan baru tentang jamban. Entah apa yang mereka pikirkan sampe punya rencana buat bikin jamban portable ini. Tapi pas gue liat lebih lanjut, ternyata mereka ini merupakan kumpulan remaja yang kreatif banget. Ya mungkin antara kreatif sama kebutuhan sendiri kali ya tepatnya...

Beberapa hari yang lalu juga, gue ngalamin suatu percakapan yang absurd parah sama temen gue tentang jamban portable ini. Pas itu gue sama temen gue ini ngomongin jamban portable udah kayak ahlinya aja. Aneh memang..




Kemudian..


Percakapan itu pun berlanjut...


Sampe akhirnya kami berniat mencalonkan diri menjadi calon gubernur....




Lanjut mengenai jamban portable. Hm..gue gak tau pasti gimana bentuk dari jamban portable itu sendiri. Yang gue tau, bentuk asli jamban menurut undang undang perjambanan tuh kayak gini...




Atau mungkin setelah sedikit di moderenkan akan nampak seperti ini yah..



Kita liat aja nanti bagaimana perkembangan jamban dan jamban portable ini. Semoga aja kalo nanti jadi dibuat bakal berguna bagi masyarakat ya hehehe..Wassalam. :)





Saturday, April 21, 2012

Hari Kartini..

Hari ini tepat di tanggal 21 april adalah hari yang cukup mengandung nilai sejarah bagi bangsa ini. Seorang wanita yang sangat berjasa bagi para kaum wanita Indonesia dilahirkan pada tanggal 21 April ini. Tepatnya di tanggal 21 April tahun 1879. Ya..dialah Raden Adjeng Kartini. Siapakah Raden Adjeng Kartini? sungguh terlalu sekali kalian yang engga tau..


CEKIDOT...




R.A Kartini


Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.



Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. 

Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht(Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.

Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, R.M. Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, RembangBerkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada tahun 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini" tentunya. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Sebenernya masih banyak lagi sejarah sejarah yang menceritakan tentang R.A Kartini ini. Berhubung info yang gue punya cuma segini, baiknya kalian cari sendiri yaa biar lebih pasti.

Berdasarkan pengalaman yang gue punya dari kecil, setiap tanggal 21 April ini diperingati sebagai hari Kartini dan hari Berkebaya seluruh Indonesia. Karena untuk memperingati Hari Kartini biasanya orang orang berbondong bondong mencari kebaya untuk dikenakan pada hari kartini. Ya semacam pesta kostum dan sejenisnya. Kebaya mana kebaya...

Kalo dipikir, tanpa orang seperti Kartini, Indonesia ga bakal bisa kayak sekarang ini *tepuk tangan*. Mungkin kalo ga ada Kartini, sekolah gue cuma berisi para cowoknya aja, tanpa guru wanita..tanpa temen wanita..entah bagaimana jadinya. Mungkin jadinya akan seperti sekolah yang berisi orang orang homo yang mendambakan sosok seorang wanita yang mendampinginya.

Dengan adanya sosok R.A Kartini ini, para kaum wanita jadi lebih dihargai. Memang wanita adalah sosok penyayang yang harus dilindungi oleh para kaum lelaki, bukan disakiti, ataupun di telantarkan. Betapa sengsaranya hidup ini tanpa kehadiran wanita.....jadi bagi para kaum adam di luar sana, jangan sampe kalian nyakitin hati para wanita, apalagi sampe maen fisik, sangat sungguh terlalu.... 

Quote hari ini :


 "Bagi kalian yang merasa jantan, janganlah sesekali menyakiti perasaan para      
  kaum lembut ini.  Kalo tidak, kalian hanyalah sama dengan tikus yang
  bersembunyi di balik topeng singa."


Beh..syahdu sekali quote ini. 

Sudah dulu ya buat post kali ini, gue mau make kebaya dulu. Ehh maksudnya nyari kebaya buat dipakein adek gue. Wassalam.

Tuesday, April 17, 2012

Berangkat bersama..nyasar juga harus bersama..

Selasa, 10 April 2012. Hari itu mungkin hari yang sial buat gue. Ga dibilang sial juga sih, tapi intinya gaenak. Dan bukan cuma gue yang sial pada hari itu. Kenapa gue sial di hari itu? kenapa bukan cuma gue yang sial pada hari itu? Simak baik baik kisah sial seorang pelajar di hari selasa ini..

Pada suatu pagi yang cerah dan damai di hari selasa, gue terbangun dengan tampilan semeraut seperti biasanya. Entah bagaimana caranya gue bisa bangun dengan tampilan semaraut seperti itu setiap pagi. Mungkin setiap malam gue tertidur dalam keadaan kaki diatas kasur dan badan gue yang dilantai. Pagi itu begitu cerah sehingga memacu gue buat pergi ke sekolah saat itu juga. Tanpa mandi, tanpa sarapan. Gatau kenapa gue paling ga suka yang namanya mandi di pagi hari. Mungkin karena naluri kebo gue mulai aktif ketika matahari telah terbit.

Karena dapet sedikit paksaan dari nyokap dan kesadaraan gue yang ga mau jadi makhluk berbau kaos kaki jamban di sekolah, gue pun akhirnya mandi. Setelah mandi, make baju, make celana, sholat, sarapan dan lain lain, gue pun bergegas pergi ke sekolah.

Sampe di sekolah, entah kenapa hawanya udah mulai gak enak. Gue langsung ngibrit ke kelas buat naro tas, ngerjain tugas yang masih belom tuntas, dan bersantai ria sebelum jam pelajaran dimulai. Inilah enaknya dateng agak pagian, bisa ngerjain tugas yang belom selesai dan bersantai ria sambil ngobrol bareng temen yang dateng pagi juga.

Krinkkk..tengnong nengnong tengnong nenetengnongnong krinkk...bel sekolah pun berbunyi. Jam pelajaran pertama pun akan segera dimulai. Anak anak kelas gue yang pada belom ngerjain tugas buat jam pelajaran pertama panik ga karuan udah kayak di kejer kejer sama banci botak bertampang preman. Jam pertama pun berlalu dengan lancar, karena jam pelajaran pertama pada hari itu adalah TIK. TIK yang dimaksud disini artinya Teknologi Informasi dan Komunikasi, bukan Teknologi Informasi dan Kutangnisasi.

Jam pertama berlalu dengan lancar, begitupula dengan jam kedua, ketiga, keempat, dan selanjutnya. Sampe akhirnya terdengar bunyi yang sangat dinantikan para siswa dimana pun mereka berada. Ya, bel penanda pulang pun berbunyi, diiringi dengan suara sorak soray bergembira dari temen temen gue. "Akhirnya pulang juga.." begitulah yang sering dikatakan murid sekolah ketika bel penanda jam pelajaran usai telah berbunyi. Tapi kayaknya perkataan tersebut ga berlaku buat sekolah gue. Karena ketika jam pelajaran udah abis, masih ada jam pelajaran tambahan yang disebut dengan PM (Pendalaman Materi). Dan pada hari itu gue ada jadwal PM. Padahal tadinya gue sama beberapa temen lain pengen ngerjain tugas bareng. Karena tugas itu disuruh dikumpulin besok, gue dan beberapa temen sekelompok akhirnya minta izin sama guru piket buat ngerjain tugas. Sialnya, guru piket cuman ngizinin kalo udah dapet persetujuan dari wali kelas dan tanda tangannya. Ribet banget memang..

Akhirnya, gue sama temen temen nyari wali kelas gue buat minta izin dan minta tanda tangan. Pas ketemu, gue pun menjelaskan maksud gue menemui beliau. Setelah menjelaskan secara singkat maksud dan tujuan gue sama temen temen, beliau pun membalas dengan penjelasan yang ga singkat dan panjang lebar. Kami mendengarkan penjelasan beliau dengan setengah hati dan berharap akan dapet izin. Yap, setelah sekian lama mendengarkan penjelasan dan sedikit diselingi ceramah, akhirnya gue sama temen temen kelompok gue dapet izin buat ga ikut PM dengan alesan mengerjakan tugas kelompok bareng. Gue sama temen gue izin PM emang murni buat ngerjain tugas kelompok, bukan buat main atau hal yang ga beres lainnya.

Karena waktunya udah mepet pengen sore, kami pun segera ke rumah salah satu temen gue itu. Ga lain ga bukan ya buat ngerjain tugas kelompok. Anggota kelompok gue kira kira ada 5 orang, seenggaknya segitu yang gue inget. Untungnya salah satu dari anggota kelompok gue bawa motor, gue pun nebeng. Gue nebeng sama temen gue yang bawa motor, yang lainnya yaa naik angkutan umum...

Temen gue yang bawa motor ini ga tau jalan ke rumah temen gue yang dijadiin tempat buat kerja kelompok. Karena gue orangnya ga tegaan kalo ngeliat orang nyasar ga karuan, akhirnya gue nemenin temen gue ini dengan maksud nunjukin jalan ke tempat tujuan. Sekaligus nebeng tentunya..huehehe.

Akhirnya, dengan raut wajah bahagia karena diajak nebeng dan ga perlu ngeluarin duit gue pun berangkat bareng temen gue yang bawa motor ini (sebut aja Budi). Setengah jalan pun berlalu. Perasaan gue mulai ga enak lagi. Gue agak ngerasa sedikit asing sama jalan yang dilewatin saat itu. Karena seinget gue, terakhir kali gue ngelewatin jalan itu kurang lebih 3 bulan yang lalu. Rumah temen gue itu di sekitar Jagakarsa. Sedangkan gue bukan orang Jagakarsa, jadi ga apal apal banget jalan jalan di Jagakarsa. Gue panik. Gue panik udah kayak abis ketemu nenek gayung yang make sempak basah di kepalanya. Jangan sampe gue nyasar berduaan sama si budi (temen gue yang bawa motor). Niatnya pengen nolong orang biar ga nyasar, ini malah jadi nyasar berduaan....

Nampaknya si budi ini mulai menyadari kepanikan gue. Dia pun akhirnya menanyakan suatu pertanyaan yang sangat gue hindari saat itu.

"Ky, muka lo kok kayak panik gitu? Ini bener kan jalannya? Kita ga nyasar kan?"

Dengan sedikit menyembunyikan wajah panik, gue pun menjawab pertanyaan si Budi.

"I..iya bener kok. Ini bener jalannya. Lo nyetir aja yang bener.."

"Ah, yang bener ky..jangan ampe nyasar. Lo bener bener tau kan jalannya?"

"Iya tau..udah lo jangan bawel, nyetir aja yang bener."

Sepanjang jalan si Budi terus menanyakan pertanyaan yang sama. Dan gue pun menjawab dengan jawaban yang sama pula. Sampai akhirnya kami tiba di sebuah pertigaan. Pertigaan ini begitu asing di ingatan gue. Gue makin panik.

"Ky, ada pertigaan nih. kita belok kanan, belok kiri apa lurus ?"

Gue bingung. Si budi ngasih pilihan yang sulit. Dengan rasa ga yakin gue akhirnya milih jalan lurus. Entah kenapa gue milih jalan lurus. Mungkin karena banyak orang hebat mengatakan : "Jika engkau tersesat, kembalilah ke jalan yang lurus."

"Hm..Lurus aja deh bud."

"Bener nih lurus?"

"Iya, bener kok bener.."

Budi pun akhirnya percaya sama gue. Rasanya agak gimana ya ngajakin orang nyasar bareng bareng...

"Abis dari sini kemana lagi ky?"

"Udah ikutin jalan aja, pokoknya kalo udah ketemu masjid gede itu udah deket berarti."

Hal yang gue inget tentang rumah temen gue itu cuman 1.) di Jagakarsa 2.) Ga jauh dari masjid gede.

"Ky, serius nih. Kita udah deket apa belom? jangan jangan lo lupa ya jalannya.."

"Hm..udah, ikutin jalan aja.."

"Kita muter muter ga jelas doang nih ky daritadi. Udah deket belom nih?"

"Hm..udah, ikutin jalan aja.."

"Dari tadi belom keliatan masjidnya. Masjidnya di sebelah manaa?? lo tau ga sih sebenernya? Kita nyasar ya? Wah, awas lo ky kalo ampe nyasar."

Sepertinya temen gue ini udah mulai curiga dan ga yakin sama gue. Gue ga tau apalagi yang harus gue bilang biar dia diem dan berenti nanya. Kalo si Budi tau daritadi nyasar bisa bisa gue di turunin di jalan dan di telantarin nyasar sendirian. Gue panik. Entah udah berapa kali gue panik.

"Engga nyasar kok bud, dikit lagi juga nyampe. Paling dikit lagi juga keliatan masjidnya. Ikutin jalan aja.."

Diantara kepanikan yang gue rasain. Cuma itu yang bisa gue bilang sama Budi.
Budi pun memberhentikan motornya karena udah ga tahan muter muter gajelas doang daritadi.

"Ky, sebenernya rumahnya dimanee? Jalan apaan? dari tadi muter muter doang kita.."

Gue coba nginget nama jalannya. Dan akhirnya gue inget. Gue inget....

"Ohiya, Jalan Belimbing Bud, Jalan Belimbing..."

"Oh, ngapa ga bilang daritadi. Jalan Belimbing mah gue tau. Itu mah ga lumayan jauh dari sini.."

"Alhamdulillah....bagus deh bagus kalo gitu. Udah cepet ayok jalan lagi."

Ternyata eh ternyata, si Budi tau jalan yang di maksud. Dan dia ga nanya ke gue daritadi. Intinya, kami adalah dua orang bodoh yang saling menyalahkan satu sama lain.

"Ky, lo ngapa ga bilang daritadi kalo rumahnya di jalan Belimbing. Jalan Belimbing mah gue tau.."

"Ya lo ngapa ga nanya juga daritadi, bud.."

"Ya harusnya lo ngasih tau gue dulu sebelom jalan. Bego lo ky.."

"Gue juga tadinya lupa. Gue juga baru inget pas lo tanyain tadi.."

"Ya berarti intinya lo yang salah."

"Ngapa jadi gue. Lo aja sono yang salah."

"Apaanlo. Lo nya aja yang pikun pake lupa jalan.."

Kami pun terus saling menyalahkan. Sampe akhirnya gue ngalah. Bisa bisa gue di turunin di asal tempat kalo si Budi sampe ngambek.

"Ky, itu kan masjid yang lo maksud? Jalan Belimbing mah deket darisini.."

"Iya bud, paling dikit lagi kita nyampe.."

"Berarti daritadi nyasar lo ga bilang bilang ye.."

"Iya Bud ehehe..kita berangkat sama sama, juga harus nyasar sama sama juga kan..ehehe"

"....."

Budi terdiam.

Ternyata bener, Jalan Belimbing ga jauh jauh banget dari masjid yang gue maksud. Akhirnya kami pun sampe dengan selamat sentausa di tempat tujuan. Ya, di Jalan Belimbing tepatnya. Jalan yang jadi permasalahan utama gue dan si Budi. *tumpengan* *happyending* *wassalam*

Thursday, March 29, 2012

AFIKAAAA...ADA YANG BARU NIHHHH..

"Afikaaa.."

"iyaaa..."

"ada yang baru nihh.."

"apaaa..."

"apaansi lo,pengen banget tau. kepo lo.."

"...."

Dialog barusan pasti udah ga asing lagi kan buat kalian. Ya..dialog barusan itu adalah percakapan antara afika dan temennya yang tukang pamer. kenapa gua bilang temennya afika itu pamer? lo liat aja dialognya yang berbunyi : "ada yang baru nihh..." kenapa harus ada yang baru? kenapa ga pake yang lama aja? dasar tukang pamer..

Bagi kalian yang udah tau tentang dialog afika yang aslinya di iklan, pasti sangat amat teramat jauh beda ya sama dialog yang gua buat diatas tadi. Ya..bagi kalian kaum fakir afika yang belum tau..medingan kalian cari tau dulu deh ya. Gua ga mau kalian mengalami mimisan di kuping  dan kanker usia dini cuma gara gara ga ngerti apa yang diomongin di post gua kali ini..


AFIKAAAA...ADA YANG UNYU NIHH..

Samina mina ee..waka waka ee..samina mina samina mina..this time for Afika~ ( This Time For Afika - Syakira ). Ngomongin soal afika, pastii kurang afdol kalo ga ngomongin kelucuannya. kalo anak anak jaman sekarang sih bilangnya "UnyuH Beudhtt" entah apa arti dari tulisan itu(-__-). memang,kalo diliat secara teliti dan seksama, si afika ini memiliki tingkat keunyuan yang ga ada obat. begitulah anak anak jaman sekarang menyebutnya.

"Afikaaa..."

"Iyaaa.."

"Kok kamyu UnYu b3udhzz s1ch..." (susah ngetiknya.)

"Ha ? jeruk? apel? apa duren?"

"Ish..kamyu koq Gak nYamBunG b3udhzz sich..."

"...."

"ish....kokk afikahz Di3mz aja sichhh?? J4wab donkkk.."

"......"

Gua yakin, kalo afika beneran ketemu sama orang kayak dialog diatas, pasti keunyuan wajahnya akan berubah menjadi raut wajah orang yang abis ketemu tuyul banci yang make sempak belom kering...saat itu juga afika pasti bakal pergi ke komnas perlindungan anak terdekat dan ngadu sama Kak Seto.


bibirnyahhh....



"mamaaa..mauu mimii susuuu.."


Imutnya over capacity.




AFIKA VS TOKOH MASYARAKAT

Kayaknya belakangan ini makin banyak aja yah korban korban yang bertambah akibat teracuni virus keunyuan anak yang satu ini. Hal itu makin terbukti dengan makin banyaknya orang orang yang buat berbagai macam parodiannya iklan afika ini, kebanyakan sih parodi yang berbentuk komik. Kebanyakan  juga si afika ini dipaksa untuk beradu dialog dengan tokoh tokoh masyarakat dalam parodinya. Dan..seperti inilah parodi komik afika itu terlihat. cekidot..


Afikaa And The Sparta Of Fire..

"simsalabim jadi apa..pokpokpok.." *mantra*


Afikaa ogah ah naik begituan..

"sorry om..you gak lepel to me.."



Afikaa mauu dong di godain...


Pasti kalo anak laki laki yang memainkan dialog ini akan terlihat aneh. Trust me.




Assalamualaikum Bang Haji..


terlaluu...





Afikaa alhamdulillah yah..something banget..


"ha?jambul?something banget tante..."




Umm...kalo yang ini...

umm..sorry kalo picturenya agak blur. lo liat aja orangnya ngeblur kayak apa..



Note : gambar gambar diatas barusan banyak yang gua cari dan dapet dari google. so, pasti banyak gambar diatas yang udah pada lo tau. (note tambahan : gambar favorite gua itu gambar yg terakhir,entah apa bagusnya.)


Hmm..mungkin ketika afika besar nanti dia punya potensi besar buat main iklan sejenis iklan sampo dan sabun mandi. gua gatau juga sih apa hubungannya oreo sama sabun mandi. tapi gua cukup yakin, afika punya potensi dan bakat yang besar buat masa depannya nanti. ya..untuk masa depannya dan masa depan pasangannya nanti.. *mulai ngayal ngawur*

Menurut gua, selain berbakat jadi bintang iklan sampo, afika juga punya bakat buat main film layar sempit,eh maksudnya layar lebar. kalo diliat dari potensinya sih..afika bakal sukses kalo maenin film kayak....

1.) Afika Yang Ditukar.
2.)Afika Juga Afika.
3.)Afika And The Jeruk Of Fire.
4.)Afika Return.
5.) Suster Afika.
6.)Tendangan Si Afika.
7.)Afika di dadaku,eh di hatiku deng.



"Afikaaa.."

"Iyaaa.."

"Udahan dulu yah ngepostnya.."

"Yaudah, pergi lo sana..gue ga-bu-tuh lo."

"......"  *bergayung*




Wassalam.